RSS

Pura Tanah Lot, Tabanan Bali

05 Agu

Pura Tanah Lot adalah sebuah pura yang berlokasi di Desa Beraban, Kediri, Tabanan , kira-kira 30 km sebelah Barat kota Denpasar. Dibangun pada abad XVI oleh Dang Hyang Nirartha yang juga dikenal sebagai Pedanda Sakti Wawu Rauh (Pedanda Sakti yang baru datang), yakni seorang pendeta yang datang dari tanah Jawa dalam rangka perjalanan spiritual/misi Tirtha Yatra ke Bali.

Keunikan dari Pura Tanah Lot ini adalah apabila pada saat pasang naik, pura nampak seperti terapungditengah laut. Dari sinilah namah Tanah Lot (laut) diambil, karena sejatinya Tanah Lot memiliki pengertian “Tanah ditengah Laut”. Di komplek pura yang tidak terlalyu luas ini (3 are) , terdapat beberapa pelinggih diantaranya Meru tumpang 5 tempat pemujaan dewa penguasa laut yakni Dewa Baruna yang sering disebut Bhatar Segara atau Dalem Tengahing Samudra, Meru Tumpang 3 untuk memuja kemuliaan /keagungan Dang Hyang Nirartha atas jasanya mengembangkan dan mengajarkan Hindu di daerah ini..

Disamping itu terdapat pula sebuah Lingga yang mulai dikenal di bali sekitar abad VIII sebagai tempat memuja Dewa Siwa guna memohon keselamatan. Disekitar pura Tanah Lot terdapat juga beberapa pura lainnya seperti pura Batu Bolong, Pura Enjung Galuh dll.

Di bawah pura pada sebuah ceruk terdapat mata air tawar yang diyakini sebagai mata air suci karena berlokasi persis di bawah pura serta rasanya tawar padahal dikelilingi oleh air laut yang asin. Banyak pengunjung meyakini dapat memeberikan keselamatan serta keberuntungan, bahkan tidak sedikit pengunjung percaya dapat menyebabkan awet muda. Di seberang ceruk mata air terdapat ceruk lain yang dihuni ular-ular belang jenis Hydrophiidae yang sebenarnya sangat berbisa, namun dianggap unik karena begitu jinak bahkan saat di sentuh oleh jutaan pengunjung hingga saat ini tidak ada yang gigit.

Masyarakat lokal meyakini ular ini sebagai jelmaan selendang yang diberikan Dang Hyang Nirartha sebagai penjaga kawasan pura terutama pada saat beliau bermeditasi waktu ini.  Dikalanagan masyarakat ada juga sebuah mitos bahwa apabila sepasang kekasih yang belum menikah melanggar norma setempat bermesraan dilokasi ini akan mengalami putus hubungan sebagaimana hal putusnya batu karang di lokasi pura dengan daratan terdekat ini. Boileh jadi ini hanaya bermakna sebagai pesan moral, boleh jadi benar adanya,. Selain itu anda juga bisa menikmati keeksotisan sunset di Tanah Lot ini.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2012/08/05 in OBJEK WISATA di BALI

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: