RSS

Pura Gunung Kawi, Gianyar Bali

05 Agu

Pura Gunung Kawi terletak di Desa & Kecamatan Tampaksiring-Gianyar, sekitar 38 km dari Denpasar. Sebuah komplek peninggalan purbakala berupa candi-candi setinggi kira-kira 7 meter, lebih tepat disebut sebagai monumen kuno yang dipahat pada sisi-sisi tebing Sungai Pakerisan 9keris adalah padanan kata jalu).diciptakan.

Candi merupakan simbol gunung yang dalam konsep Hindu merupakan tempat bersthana para Dewa. Kawi berarti ada/diciptakan. Dengan demikian Gunung-Kawi dapat diartikan sebagai candi yang dibuat untuk memuliakan, memuja atau mensthanakan raja-raja yang berkuasa pada saat itu adalah dari dinasti Warmadewa. Pada sisi barat sungai terdapat deretan candi yang terdiri dari 4 buah, disimpulkan sebagai candi untuk para selir raja. Di bagian selatan dari lokasi ini yang sekrang beradadi dalam komplek pura adalah peninggalan berupa ceruk-ceruk tempat pertapaan yang salah satunya nampak memiliki fungsi khusus dengan adanya sebuah lubang di tengah-tengah lantai yang biasanay dipakai sebagai tempat melaksanakan ritual Agni Homa (upacar penyucian dengan sarana api). Di depan ceruk/gua pertapaan terdapat beberapa buah batu persegi empat dengan sembilan lobang yang disebut pripih. Sembilan lobang tersebut melambangkan kosmos dengan delapan penjuru mata angin ditambah satu di tengah sebagai pusat, sering dihubungkan dengan Dewata Nawa Sanga.

Komplek pura ini terdiri dari beberapa bagian :

Pada sisi timur sungai paling utar berupa deretan 5 buah candi, dibagian atas candi pertama terdapat tulisan yang berbunyi “Haji Lumahing Jalu” yang arti harfiahnya adalah Rumah Raja di Pakerisan karena kata Haji berarti raja, Lumah adalah rumah dalam hal ini berarti candi, jalu identik dengan keris. Atas dasar tersebut diyakini bahwa candi tersebut adalah untuk Raja Udayana. Lalu pada candi kedua terdapat tulisan yang berbunyi “Rwa-anakira” yang berarti “dua anaknya”.   Berdasarkan tulisan tersebut maka candi itu masing-masing diperuntunkan bagi kedua putra Raja Udayana yakni Marakata dan Anak Wungsu. Candi yang lainnya pada deretan ini diperkirakan untuk  para permaisuri. Satu lagi komplek candi di sisi barat sungai berlokasi agak jauh menyendiri dibagian selatan. Candi ini diperuntunkan bagi “Rakryan” yaitu jabatan semacam Perdana Menteri/Mahapatih kerajaan sebagaimana yang tertulis di sana. Untuk mencapai tempat ini, pengunjung harus melewati pematang sawah dengan jalur yang agak berliku. Bagi pengunjung berusia lanjut relatif mengalami kesulitan untuk mencapai lokasi ini, apalagi pada waktu hujan, dalam pengertian tempat ini tidak selalu dikunjungi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2012/08/05 in OBJEK WISATA di BALI

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: